Sibuk Bertahan Hidup, Buruh Lupa Bertanya Mengapa?

illustrasi: FSPBI

Kalau judul ini ditempel di papan pengumuman ruang istirahat buruh bandara, apakah mereka akan tertarik membacanya?

      Sebuah pertanyaan kritis yang dilontarkan seorang sahabat ketika mengakhiri diskusi tentang krisis yang sedang terjadi di Indonesia. Pertanyaan itu singkat, tapi menggelitik dan penulis memutuskan untuk menuangkannya menjadi tulisan supaya suatu hari muncul kelompok-kelompok kecil buruh bandara yang punya kesadaran untuk bertanya, “Mengapa?”.

Krisis Datang Meminta Tumbal

      Ketika jumlah penerbangan berkurang, jam kerja dipotong dan biaya hidup terus naik. Buruh bandara adalah pihak yang pertama kali merasakan dampaknya. Dalam situasi seperti ini, banyak dari kita sibuk mencari cara bertahan hidup dari hari ke hari. Namun pernahkah kita bertanya mengapa keadaan seperti ini terus berulang? Mengapa krisis selalu meminta buruh untuk berkorban lebih banyak? Pertanyaan semacam inilah yang selayaknya dibahas di antara buruh bandara.

      Ketika harga saham menurun drastis dan nilai tukar dollar semakin melonjak tinggi, harga avtur tentu menjadi mahal dan biaya operasional penerbangan semakin naik, (investortrust.id: Harga avtur naik, 16,16% pada Mei 2026, Tiket Pesawat Berpotensi Terkerek) maka pilihan pertama pengusaha adalah bagaimana caranya menyelamatkan bisnis dan aset perusahaan.

      Terdapat banyak cara menyelamatkan bisnis perusahaan, salah satunya adalah mengurangi jumlah buruh dan menjadikan mereka yang bertahan melakukan lebih dari satu pekerjaan dengan upah yang sama. Cara lain yang tak kalah kejamnya adalah mengurangi upah seraya berpesan “perusahaan sedang merugi akibat krisis”

      Krisis di Indonesia terjadi bukan karena kesalahan dan keteledoran Masyarakat, khususnya para buruh. Krisis terjadi akibat pengaruh politik global dan ketidakbecusan pemerintah mengatur negara ini. Sektor bandara yang menjadi salah satu sektor penting dalam kemajuan perekonomian negara terkena dampak yang signifikan. Menurunnya minat masyarakat bepergian dengan pesawat terbang memaksa maskapai penerbangan untuk memangkas jadwal terbang dan mengurangi armada (Kontan.co.id: Penumpang Domestik Turun Drastis? Ini Risiko Kenaikan Tiket 9-13%).

      Sementara itu hal yang sama dilakukan oleh manajemen bandara yang harus mengimbangi biaya operasional yang tinggi dengan pelayanan yang diberikan kepada pemakai jasa bandara.

Sibuk Bertahan Hidup

      Krisis yang terjadi membuat buruh sering dihadapkan oleh pilihan yang sulit. Ketika jam kerja berkurang, mereka mencari pekerjaan tambahan. Ketika penghasilan menurun, mereka mengambil lembur. Ketika biaya hidup naik, mereka menambah hutang atau mengurangi kebutuhan keluarga. Segenap tenaga dan pikiran dikerahkan hanya untuk bertahan hidup, akibatnya ruang untuk bertanya semakin kecil. Padahal sebagai manusia yang bebas, buruh mempunyai hak untuk bertanya; mengapa krisis selalu melanda Indonesia dan mengapa dampaknya selalu merugikan buruh?

      Seorang filsuf kritis, Herbert Marcuse menulis buku yang menginspirasi gerakan buruh berjudul One-Dimensional Man. Dalam bukunya ia mengatakan di kalangan masyarakat (khususnya buruh) sistem sosial telah mengatur mereka menjadi manusia satu dimensi. Maksudnya karena kondisi sosial, masyarakat berubah menjadi manusia satu dimensi yang sulit memikirkan alternatif atau pilihan-pilihan lain dalam hidupnya (Marcuse Herbert: One- Dimensional man, United Kingdom: Routledge, 1964).

      Sama dengan buruh bandara, sistem kerja telah mengatur mereka menjadi buruh yang sibuk bekerja dan lupa membangun kekuatan di antara mereka sendiri. Padahal kekuatan itu diperlukan untuk mengubah nasib mereka di tempat kerja. Jangan heran, ketika buruh bandara hanya fokus bekerja, mereka kemudian ditawarkan kenyamanan-kenyamanan yang sifatnya individulis atau untuk kepentingan diri mereka sendiri. Mereka kemudian diarahkan untuk mencari solusi sendiri, misalnya bekerja lebih keras, mengambil lembur, mengambil pekerjaan tambahan, sampai akhirnya mereka kelelahan dan jatuh sakit. Pada saat mereka sakit, perusahaan hanya memberikan dua pilihan sembuh dan kembali bekerja atau mengundurkan diri.

      Itulah kenapa Marcuse mengingatkan agar jangan menjadi manusia satu dimensi, jangan hanya memikirkan satu hal, jangan hanya bekerja untuk mencari uang, tapi berbuatlah sesuatu yang lain dengan membangun kekuatan bersama-sama di tempat kerja. Bertanyalah bersama-sama, mengapa upah harus dipotong ketika ada krisis, mengapa kontrak diputus sepihak ketika perusahaan mengalami kerugian? Semua ini harus dilakukan oleh mereka yang memiliki pilihan, bukan hanya diam dan terus bekerja sampai kelelahan.

Kebebasan Sejati Buruh Bandara

      Mari kita melihat dengan jeli, salah satu keberhasilan sistem kerja adalah ketika para buruh menganggap keadaan yang tidak adil adalah hal yang wajar. Misalnya, pengurangan tenaga kerja dianggap normal, jam kerja yang tidak menentu dianggap normal, upah yang dipotong dianggap normal (daripada tidak dapat upah), bahkan krisis yang terus-menerus terjadi dianggap normal. Ketika hal-hal tidak wajar itu dianggap normal, bahkan dianggap kondisi yang tidak dapat diubah lagi, disitulah buruh menjadi tidak kritis lagi. Buruh tidak memiliki kesadaran untuk menanyakan kepada perusahaan dan pemerintah, kenapa kami yang harus jadi korban, padahal krisis ini terjadi akibat kelalaian pemerintah.

      Kita sering dibuat percaya bahwa masalah hidup dapat diselesaikan dengan bekerja lebih keras dan membeli lebih banyak barang. Padahal disitulah sistem sedang mengelabui kita dengan bekerja mati-matian dan kehilangan kebebasan sebagai manusia sosial. Saking sibuknya bekerja, buruh lupa bahwa sesungguhnya mereka harus melakukan perubahan di tempat kerja mereka. Kondisi buruk di tempat kerja hanya dapat diubah oleh buruh, bukan pengusaha. Supaya ketika terjadi krisis, buruh bandara tidak menjadi tumbal pertama yang dikorbankan demi menutupi kerugian perusahaan.

      Mari kita bertanya, apakah sebagai buruh bandara kita memiliki kebebasan sejati? Bebas berpendapat, bebas menanyakan sistem dalam perusahaan dan bebas untuk menjalani hidup secara normal dan tidak masuk dalam jebakan pemenuhan kebutuhan palsu. Perjuangan buruh bukan hanya untuk mendapatkan bagian yang lebih besar dari hasil kerja, tetapi juga untuk memperoleh kendali yang lebih besar atas kehidupan kerja dan kehidupan sosial mereka.

      Kebebasan sejati bukan hanya memiliki pekerjaan dan menerima upah semata. Kebebasan sejati buruh bandara adalah kemampuan untuk menentukan sendiri tujuan hidupnya tanpa dipaksa terus menerus mengikuti kebutuhan dan tuntutan yang ditetapkan oleh sistem. Menutupi tulisan ini penulis mengajak semua buruh bandara untuk bertanya: Sanggupkah kita mengubah kondisi di tempat kerja dengan membangun kekuatan di dalam Serikat Pekerja?

###

Referensi:

Marcuse Herbert: One- Dimensional man, United Kingdom: Routledge, 1964

investortrust.id: Harga avtur naik, 16,16% pada Mei 2026, Tiket Pesawat Berpotensi Terkerek

Kontan.co.id: Penumpang Domestik Turun Drastis? Ini Risiko Kenaikan Tiket 9-13%)

*Penulis: Jacqueline Tuwanakotta (Ketua Umum FSPBI)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *