
Resensi Buku:
Transisi Energi: Privatisasi listrik, Ketidakadilan dan perlawanan serikat
Pada Jumat 13 Februari 2026 pagi hari. Bertepatan dengan acara peluncuran 4 buku di LBH Jakarta, saya berangkat dengan beberapa kawan. Termasuk salah satunya Khamid Istakhori atau kerap disapa Mas Khamid. Penulis dari salah satu buku yang akan diluncurkan.
Beberapa buku yang diluncurkan antara lain:
- Menunggu dan Matinya Waktu Luang: Cerita Perlawanan Pengemudi Ojek Online di Tiga Kota. Diterbitkan oleh LIPS. Buku ini ditulis oleh para pengemudi Ojek Online.
- Pesawat Anda Delay: Studi Awal Pemetaan Kondisi Kerja, Hubungan Kerja dan Pengupahan di Bandara Soekarno-Hatta. Diterbitkan oleh FSPBI. Buku ini merupakan laporan riset FSPBI bersama LIPS tentang buruh di sektor kebandarudaraan.
- Transisi Energi: Privatisasi Listrik, Ketidakadilan, dan Perlawanan Serikat Pekerja. Diterbitkan oleh YLBHI. Buku karya Khamid Istakhori ini ditulis berdasarkan pengalamannya dalam mengorganisir dan mengadvokasi buruh di sektor ketenagalistrikan.
- Prahara di Lembah Parau: Novel Tentang Perjuangan Buruh Tambang Batubara. Karya Mohamad Irfan yang diterbitkan Filosofis Indonesia Press.
Saat dalam perjalanan menuju tempat acara, kami di mobil berbincang untuk mengisi kejenuhan melawan kemacetan Jakarta.
“Fan!?” Sapa mas khamid. “Mana nih Resensi buku gue, udah ada belom?” tanyanya.
Sedikit kaget sekaligus bingung “Resensi? Buku yang mana?” Tanyaku kembali.
“Emang belum dapet? Ini yang mau di launching. Kalo dapet emang mau dibaca?” tanya dia sambil memunculkan wajah tersenyum meledek yang membuatku penasaran soal buku tersebut.
“Ya nanti dibaca kalo dapet, mudah-mudahan yaa,” jawabku dengan santai dan ketawa.
Mas Khamid sedikit menceritakan isi buku tersebut, hal itu semakin membuatku penasaran dengan isi buku itu. Sampai aku anggap sebagai utang jika tak kunjung membacanya. Barangkali utang ini adalah utang yang tidak terdata oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan).
Setelah selesai diskusi buku di LBH, akhirnya saya mendapatkan buku ini, yang berjudul “Transisi Energi: Privatisasi listrik, Ketidakadilan dan perlawanan serikat”.
Buku ini ditulis langsung oleh Mas Khamid dari hasil kumpulan pengalaman lapangannya. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah, mengingat sepak terjang Mas Khamid di dunia gerakan buruh sudah memakan waktu lebih dari dua dekade. Bayangkan, dia harus mengingat kembali, mengumpulkan dokumentasi serta menghubungi narasumber-narasumber yang ada di dalam buku ini.
Dengan bantuan Syarif Arifin sebagai editor buku ini, dia berhasil menghadirkan perspektif berdasarkan sejarah gerakan buruh di sektor ketenagalistrikan. Selain itu editor juga berhasil menghubungkan antara sejarah dengan pengalaman lapangan penulis. Serta mengolah narasi yang berat dalam buku ini menjadi lebih ringan bagi buruh seperti saya.
***
Just Transition adalah salah satu isu yang belum lama saya dengar, berbanding terbalik dengan penulis yang sudah mengenal isu ini sejak tahun 2008. Saya lupa, mungkin di tahun yang sama saya masih asyik bermain layangan di tengah sawah sepulang sekolah. Hal itu yang membuat saya tertarik membaca buku ini.
Dalam buku ini banyak menceritakan realitas buruh di sektor energi listrik. Mulai dari situasi kerja yang buruk, seperti upah murah, outsourcing, keselamatan kerja hingga perlawanan serikat pekerja di sektor ini.
Sering sekali saya mendengar Mas Khamid berbicara, “Kita Berhutang banyak kepada buruh-buruh di sektor ketenagalistrikan”. Awalnya saya tidak paham mengapa dia berbicara seperti itu di beberapa forum diskusi. Tetapi akhirnya hal itu terjawab di dalam buku ini. Ungapan Mas Khamid bukan isapan jempol belaka. Sebab di balik listrik yang menyala di rumah-rumah kita atau kantor-kantor tempat kita bekerja tidak lepas dari perjuangan panjang gerakan buruh di sektor ketenagalistrikan.
Bayangkan jika di fase awal kemerdekaan negara kita, buruh tidak berjuang dengan mengambil alih perusahaan-perusahan milik asing, dalam hal ini listrik. Mungkin saat ini negara kita tidak memiliki perusahaan listrik sendiri. Konsekuensinya, kita akan mendapat harga listrik yang mungkin akan jauh dari harga yang kita nikmati sekarang. Belum lagi kemungkinan sabotase, yang akan kita rasakan jika perusahaan listrik dimiliki swasta. Padahal, saat masih dimiliki negara saja seperti saat ini, kita pernah merasakan beberapa kali blackout.
Blackout adalah kondisi ketika terjadi pemadaman listrik total secara tiba-tiba pada suatu area atau wilayah yang menyebabkan tidak adanya pasokan listrik sama sekali.
Perjuangan buruh ketenagalistrikan tidak berhenti di fase kemerdekaan saja. Sampai hari ini mereka masih terus berjuang. Dalam buku ini diceritakan, serikat buruh di sektor listrik masih melawan berbagai upaya penyelenggara negara dalam melakukan privatisasi perusahaan di sektor energi dan listrik. Melalui berbagai diskusi, kampanye, aksi hingga JR (Judicial Review) di Mahkamah Konstitusi. Serikat buruh ketenagalistrikan memiliki argumen yang sangat kuat, bahwa listrik yang merupakan kebutuhan dasar yang menyangkut hajat milik orang banyak harus dimiliki oleh negara.
Setelah berkesempatan membaca buku ini, saya menemukan banyak hal-hal baru dan beberapa catatan penting. Di antaranya:
- Eratnya hubungan gerakan buruh dengan isu rakyat
Sejarah gerakan buruh di indonesia sangat erat dengan isu rakyat. Dalam buku ini kita diajak melihat kembali perjuangan gerakan buruh di fase Kemerdekaan. Salah satu contoh yaitu peristiwa pengambilalihan perusahaan-perusahaan milik asing, yang mungkin di antaranya saat ini kita kenal dengan istilah perusahaan BUMN. Setelah perusahaan-perusahaan itu dikuasai buruh, kemudian diserahkan kepada negara agar bisa dikelola untuk kesejahteraan rakyat.
Namun sayang, setelah itu penyelenggara negara malah “mengobralnya” untuk swasta, di mana itu mencederai perjuangan buruh yang telah susah payah mengambil alih. Terlepas dari respons negara yang mengecewakan kaum buruh, itu membuktikan bahwa peran buruh dalam fase awal setelah kemerdekaan sangat besar.
Saya melihat sebagai buruh angkatan muda, kita (gerakan buruh) perlu melihat kembali sejarah-sejarah perjuangan gerakan di masa lalu. Bukan untuk meromantisasi, tetapi untuk melihat persamaan atau mungkin perbedaan gerakan buruh masa lalu dan masa kini dalam merespons suatu isu.
Selain itu saya juga melihat gerakan buruh di masa lalu memiliki pandangan yang sangat luas terhadap isu yang mereka perjuangkan. Walaupun saya yakin masalah harian juga tetap ada, seperti upah murah, pemutusan hubungan kerja, hingga keselamatan kerja. Tetapi dengan juga memperhatikan isu-isu rakyat secara luas menjadi sesuatu yang barangkali di gerakan buruh saat ini belum banyak dilakukan. - Privatisasi
Salah satu cerita penting dalam buku ini adalah bagaimana penyelenggara negara berulang kali mencoba peruntungan melalui pembentukan undang-undang untuk mengupayakan privatisasi terhadap perusahaan listrik negara. Privatisasi adalah alih fungsi aset yang dilakukan oleh pemerintah ke sektor swasta. Singkatnya privatisasi adalah upaya mengurangi/menghilangkan kontrol negara dalam kegiatan industri.
Di sektor listrik, dalam buku ini tercatat ada tiga kali upaya privatisasi melalui pembentukan undang-undang, serta tiga kali juga upaya itu digagalkan serikat buruh melalui Judicial Review (JR). Putusan Mahkamah Konstitusi jelas bahwa kebutuhan dasar yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus dikelola oleh negara.
Melalui buku ini akhirnya saya mengerti, ternyata menyerahkan industri-industri penting negara ke tangan swasta bukan pilihan yang tepat. Memang sebagai rakyat, kita selalu dihadapkan dengan berita banyaknya kerugian di perusahaan BUMN, tetapi privatisasi bukan sepenuhnya solusi. Selain mengganggu stabilitas negara, itu juga rawan sabotase.
Hal yang bisa dibenahi negara adalah menempatkan orang yang tepat untuk mengelola perusahaan-perusahaan BUMN. Alih-alih melakukan hal itu, jabatan di perusahaan BUMN kerap kali diberikan sebagai transaksi politik semata. - Kemiripan kondisi tenaga kerja di berbagai sektor
Sebagai pengurus salah satu organisasi buruh, saya tertarik melihat dan mempelajari sektor yang berbeda dengan yang saya geluti sekarang. Buku ini menjelaskan dengan detail masalah yang dialami buruh ketenagalistrikan. Saya melihat secara garis besar masalah yang ada di sektor ketenagalistrikan sama dengan sektor transportasi (Khususnya penerbangan, kebetulan saya beraktivitas di sektor penerbangan).
Mulai dari Upah murah, outsourcing, kebebasan berserikat hingga keselamatan kesehatan kerja (K3).
Saya melihat isu yang sangat penting dalam konteks K3. Pada buruh ketenagalistrikan, mereka sangat rentan mengalami kecelakaan kerja di tempat kerja. Diceritakan dalam buku ini, beberapa buruh mengalami kecelakaan kerja, yang menyebabkan cacat hingga merenggut nyawa. Hal ini yang membuat jaminan sosial sangat penting bagi buruh di sektor ini, selain Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai.
Fakta di lapangan juga tidak kalah mencengangkan, banyak buruh yang belum dapat jaminan sosial atau bahkan kesusahan untuk mengaksesnya. - Referensi teknis perjuangan serikat buruh
Mas Khamid berhasil menuliskan alternatif jalan perjuangan serikat buruh yang dapat ditempuh. Salah satu yang menarik adalah membangun aliansi taktis lintas sektor dan unsur masyarakat. Jika dilihat dari persamaan isu dan perjuangan, aliansi bisa menjadi salah satu cara efektif bagi gerakan buruh. Apalagi saat ini serikat buruh banyak yang terfragmentasi. Saya rasa Mas Khamid juga tidak keberatan jika alternatif yang tertulis di buku ini didiskusikan di sekre-sekre atau bahkan ditiru.
Ada beberapa aliansi yang lumayan saya kenal, di antaranya Persatuan Perjuangan Rakyat Indonesia (P2RI), GEBRAK, dan Global Union Federation (GUF). Masing-masing aliansi memiliki variasi perjuangan. - Di balik kemenangan buruh ada peran besar serikat Pekerja
Dalam buku ini juga memuat banyak cerita kemenangan besar yang diraih Serikat Buruh Kerakyatan (SERBUK) dan tentu itu juga kemenangan gerakan buruh. Dari berbagai cerita kemenangan itu hampir semua diraih karena serikat buruh. Hal itu menjadi bukti bahwa serikat buruh sangat penting bagi buruh. Di saat negara sudah tidak berhasil melindungi buruhnya, serikat buruh-lah yang menjadi harapan terakhir sekaligus solusi.
Pengusaha sangat sadar terhadap potensi hambatan yang timbul dari adanya serikat buruh. Mereka tidak akan bebas mengeksploitasi buruh, demi mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Mereka takut jika buruhnya terdidik. Mereka akan khawatir dengan tuntutan-tuntutan serikat buruh. Itulah sebabnya kampanye antiserikat terus diterapkan. Intimidasi buruh yang berserikat, penghalang-halangan buruh yang berserikat, hingga pemutusan hubungan Kerja terhadap anggota atau pengurus serikat buruh.
Memang kita sebagai buruh selalu dieksploitasi, dipotong upahnya, digantung kepastian kerjanya, hingga ditakut-takuti akan di-PHK jika nekat membangun serikat buruh. Situasi ini selalu menghimpit dan membuat sesak kita. Tetapi dari itu semua, kita tidak bisa berharap perubahan atau kebaikan jatuh dari langit.
Sebagai buruh kita perlu berserikat, banyak orang berpendapat “kalo saya berserikat, saya takut nanti dipecat”. Lalu, apakah ada jaminan jika kita tidak berserikat, kita tidak akan dipecat? Kita memang dipaksa tidak memiliki banyak pilihan, dan pilihan yang tersisa adalah serikat buruh. Let’s Organise!
***
Menutup tulisan pendek ini, saya ingin berterima kasih kepada penulis, editor dan penerbit, karena telah menyajikan buku yang sangat menarik. Memperbanyak buku-buku seperti ini menjadi sangat penting, dengan tujuan untuk dijadikan bahan diskursus di sekre-sekre serikat buruh dan menjadi referensi baru bagi perjuangan serikat buruh.
Bagi saya pribadi buku ini berhasil membuat saya sadar, salah satu komentar dalam buku ini serasa terpatri dalam kepala saya, “Di balik cahaya lampu yang menerangi rumah kita saat petang, terdapat keringat dan tenaga Buruh ketenagalistrikan”.
Terima kasih kawan-kawan buruh kelistrikan.
*Penulis: Irfan Mucharrom
*Editor: LIPS (Lembaga Informasi Perburuhan Sedane)

