
Industri pulih, tetapi luka para pekerja bandara? Tidak. Ada pekerja yang sudah 10 tahun bekerja namun masih berstatus kontrak. Lalu, ada juga yang tidak pernah merasakan kenaikan upah, beberapa harus pulang subuh, untuk sekedar mengistirahatkan badan sebelum masuk kembali di sore hari. Ada yang setiap malam menunggu dikirimi jadwal kerja seperti menunggu nasib. Ada yang merantau dari jauh, berharap mendapatkan kehidupan lebih baik, tetapi justru terjebak dalam siklus kerja yang penuh ketidakpastian dan minim kepastian hukum.
Pemulihan apa yang dibicarakan industri jika mereka yang menghidupkan bandara justru semakin terpuruk?
Industri boleh bangkit, tetapi pekerja menolak untuk dibiarkan jatuh.
Tidak ada pemulihan ekonomi yang benar-benar layak disebut “pemulihan” jika dibangun di atas pengorbanan pekerja yang semakin murah harganya.
Inilah alasan kenapa serikat pekerja menjadi kebutuhan, bukan pilihan.
Karena tanpa kekuatan kolektif, pemulihan hanya akan menjadi milik mereka yang punya modal, bukan milik mereka yang menggerakkan roda industri. Serikat adalah wadah untuk mengatakan: “Kami bekerja keras. Kami manusia. Dan kami berhak mendapatkan kondisi kerja yang baik.”
Pemulihan bukan hanya tentang pesawat yang kembali terbang.
Pemulihan sejatinya adalah ketika pekerja yang membuat pesawat itu terbang juga ikut merasakan kesejahteraan.
Dan sampai saat itu tiba, kita harus tetap bersuara lebih keras, lebih lantang, dan lebih kompak dari sebelumnya.
Outsourcing Semakin Banyak, Pekerja Semakin Tidak Punya Kepastian
Sekarang, perusahaan outsourcing makin banyak masuk ke bandara. Awalnya mungkin kita pikir ini cuma perubahan sistem biasa, tapi lama-lama terasa kalau kita makin kehilangan kepastian. Pekerjaan yang dulu bisa tetap dan stabil, sekarang berubah jadi kerja yang serba tidak pasti. Ada yang setiap beberapa bulan harus tanda tangan kontrak baru, ada yang dipindah-pindah tanpa penjelasan, dan ada juga yang tidak tahu nasibnya setelah kontrak habis.
Sistem outsourcing ini bikin posisi kita sebagai pekerja jadi gampang diganti, gampang ditekan, dan susah bersuara. Padahal, tanpa tangan kita semua, operasional bandara itu tidak akan berjalan.
Kontrak Fleksibel: Fleksibel Buat Perusahaan, Bukan Buat Kita
Sekarang banyak pekerja bandara yang punya kontrak pendek kadang 6 bulan, 3 bulan, bahkan ada yang 1 bulan sekali. Bayangkan hidup dengan status seperti itu. Setiap mau masuk kerja, kita selalu punya pikiran:
“Bulan depan masih kerja nggak ya? Tiba-tiba diputusin nggak ya?”
Jadi yang fleksibel sebenarnya perusahaan, bukan kita. Kita yang harus siap setiap saat disuruh, tapi perusahaan tidak pernah memberikan kepastian jangka panjang.
Upah Rendah: Beban Kerja Naik, Penghasilan Tidak Ikut Naik
Setelah pandemi, jumlah penerbangan naik lagi. Bandara makin ramai. Beban kerja kita juga ikut naik. Tapi apakah gaji kita naik? Kebanyakan jawabannya: Tidak.
Banyak pekerja yang upahnya hanya sedikit diatas UMK, bahkan tanpa tunjangan seperti dulu. Ada tunjangan yang hilang, ada insentif yang dipotong, serta ada juga yang jam kerjanya terus bertambah tanpa tambahan bayaran. Padahal pekerjaan di bandara bukan pekerjaan ringan, banyak resiko, banyak tekanan, dan butuh tenaga serta fokus tinggi.
Ini yang membuat banyak pekerja bilang bahwa upah rendah setelah pandemi ini bukan cuma masalah ekonomi, tetapi seperti “kejahatan yang sudah jadi sistem”. Kita diperah habis-habisan tetapi tidak diberi penghargaan yang layak.
Industri Pulih, Tapi Kita Tidak Ikut Pulih
Yang paling ironi, industri penerbangan sekarang sudah pulih. Penumpang makin banyak, pesawat makin sering terbang, dan laporan perusahaan menunjukkan keuntungan mulai naik lagi. Tapi entah kenapa kesejahteraan kita tidak ikut naik.
Perusahaan bangga bilang bisnis sudah kembali normal, tapi kondisi kerja kita justru semakin berat dan jauh dari normal.
Kita kerja lebih keras, lebih cepat, lebih banyak tekanan tapi hak-hak kita tidak kembali seperti dulu.
Jadi, Kenapa Kita Perlu Serikat Pekerja?
Karena perubahan tidak akan datang sendiri. Karena tanpa suara bersama, kita akan terus dianggap “bisa diganti kapan saja”. Dan karena hanya dengan bersatu, suara kita bisa lebih kuat dan lebih didengar.
Serikat pekerja bukan hanya tempat untuk mengadu atau curhat ini tempat kita belajar, memperjuangkan hak, menjaga solidaritas, dan memastikan kita tidak berjalan sendirian.
Bergabung dengan serikat adalah langkah awal yang penting. Tapi langkah berikutnya adalah membangun kekuatan bersama, mengorganisir, berdiskusi, dan memperjuangkan kondisi kerja yang lebih adil.
Penulis: Frendo

